BALADA MENJEMPUT REZEKI DIAWAL TAHUN 2019
(CELOTEH ANAK RANTAU DIBALIK JASA OUTSOURCE)
Oleh: Kimbachdim
Menjemput rezeki diawal tahun 2019 kiranya sedang dijajaki oleh para lulusan-lulusan muda generasi penerus bangsa tanah air. Sebut saja Dodit yang datang dari Barat Indonesia, tubuh tambunnya siap bertarung menjemput Kerasnya rezeki di ibukota. Lagi, balada anak rantau yang berakhir di pangkuan penyalur kerja atau yang sering beken disebut jasa outsourching. Aturan-aturan kerja yang cukup mengikat para mitra yang terkesan berat sebelah namun harus diterima dengan lapang dada. Beberapa pihak yang merasa resah oleh segenap atribut aturan-aturan dari A-Z yang tak jarang membuat geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, kurangnya transparansi informasi dan komunikasi antar kedua belah pihak membuat tak jarang sebagai jasa penyalur pekerjaan mereka dicap sebagai "pengeruk uang" semata.
Bagaikan pola mata uang keduanya sangat bergantungan, Dodit yang notebene seorang fresh graduated dari Kota Bengkulu nekad menjemput rezeki di ibukota. Minim skills dan pengalaman bekerja sebelumnya tidak menyurutkan semangatnya untuk mengais rezeki di Jakarta. Menariknya dia sama sekali tidak memiliki sanak saudara di Jakarta yang bisa dia gantungkan sebagai malaikat pembantu kalau-kalau dia mengalami kesusahan di Jakarta.
Bagi sebagian besar anak daerah yang memang sedang mencari pekerjaan, Jakarta masih dianggap sebagai surganya pekerjaan. Stereotip anak daerah yang ingin merantau di ibukota menganggap upah yang dijanjikan sangat menggiurkan dibanding dengan nilai minimum upah di daerahnya masing-masing. Dodit hanyalah secuil kisah anak rantau yang mencoba peruntungan di Jakarta dengan bermodalkan semangat serta kemuan keras untuk menjadi anak rantau yang sukses. Sisi lain mengenai perusahaan outsourching cukup menarik untuk dibahas, menurut saya tidak melulu negatif. Namun jika ditilik lebih lanjut keduanya saya pikir saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Tentunya dengan berbagai
Komentar
Posting Komentar