mis(t)ery-box: #CintaDalamAksara

#Cinta Dalam Aksara

Siapa yang bisa merasakan kehilangan, sedang sesungguhnya dia tidak benar-benar pernah memiliki?

..... Aku!
Ada apa setelah titik?

Mungkin tersisa sebuah ruang baca yang hampa. Karena jauh sebelum titik, kata-kata sudah mulai kehilangan makna, atau makna yang tersedia terlalu menyita emosi hingga hanya menyisakan kekosongan, tidak klimaks.

Setelah titik, aku masih menunggu di ujung waktu. Hingga pendulum tak lagi mengayun ke kanan atau ke kiri. Tapi aku juga tak mungkin berharap jarum jam berputar melawan takdirnya untuk bergerak ke kanan. Mengembalikan yang tak sempurna jadi sebatas peluang, bukan koreksi-koreksi yang harus dievaluasi.

Ada apa lagi setelah titik?

Ada hambar yang menyebar sampai meracuni kerongkongan. Pahitnya membuatku lebih tersiksa dari sekedar aksi bungkam. Dibiarkan sayang, dijawab pun enggan.

Suara hujan adalah satu-satunya yang paling berisik di antara kita berdua saat itu. Menyaingi gaduh gemuruh di dada karena perpisahan adalah hal yang jarang benar-benar diinginkan. Aku mengemas koper dengan tergesa, selagi kau hanya berdiri di pintu merunduk menghitung barisan semut satu per satu.

Ada apa titik?

Ada aku, kamu, dan rasa canggung. 
Mungkin kau masih akan memanggil namaku, tapi aku… 
Tidak!

Kenapa harus selalu aku yang merindukanmu?

Padahal aku sudah berkali-kali naik kereta, bermobilisasi dari Kiara Condong, Lempuyangan, Jemursari, dan entah apa lagi yang sudah pernah kelewati. Gajayana, Argo Bromo, Kamandaka, dan entah apa aku sampai lupa karena terlalu fokus mengisi salah satu kursinya saja.

Aku mati-matian menghindar. Eh, kau malah hinggap dalam lamunan. Kugeleng-gelengkan kepala sampai terasa pusing agar namamu lekas menggelinding, tapi ternyata kau pakai lem paling lekat sehingga tak mungkin aku tak ingat.
Besok aku mau ikut kereta wisata saja. Berkeliling kebun binatang dan melihat aneka satwa. Awas saja kalau kulihat ada buaya menyaru jadi mukamu!
Maaf, aku harus pergi seperti kegelapan malam yang diusir pagi. 

Selalu ada penghiburan, untuk setiap hati yang terluka. Bila saja rasa menerima bisa datang pada hati di saat yang tepat sebelum hal-hal terasa semakin berat. Tidak semua luka meninggalkan bekas yang tak terhapus, karena kadang sisa nodanya bisa kita tutupi agar tidak tampak di mata orang atau sampai mengganggu pemandangan.

Yang samar tinggal jejak airmata. Terserah mau diapakan. Pakaikan bedak dan poles sedikit dengan perona pipi supaya berseri lagi, juga boleh. Dunia memang kadang menyedihkan, tapi tak ada yang mau tahu apakah sebenarnya kau menderita saat tertawa, atau memang tulus meskipun sekedar tersenyum tipis

Tak hendak ku larung hatiku, pada pelayaranmu yang tertuju pada dermaga selain aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HOTSPOT : (Fantasi friend with benefit)

Semua Orang Sedang Berproses